Tidak Ada Istri yang Ideal

Oleh Drs. Widi Purwanto, Guru SLTPN 3 Purwonegoro

Seorang teman, ketika masih single, mempunyai cita-cita kelak memiliki seorang istri yang kutilangdasi (kuning, tinggi, langsing, dan (maaf) dada berisi), juga berotak cemerlang dan bermoral yang baik. Bertahun-tahun ia mencari calon istri yang ideal menurut pandangannya. Akan tetapi, selalu kandas di tengah jalan karena wanita yang ia temui tidak sesuai dengan idealismenya. Begitu bertemu dengan seorang wanita, ada saja kekurangannya. Konon, jika distatistik, lebih banyak kekurangannya daripada kelebihannya.

Ketika usia teman saya sudah mencapai angka tiga puluh lima, sedikit demi sedikit, gambaran istri yang ideal mulai luntur. Ia marasakan betapa sulitnya mencari istri yang ideal, istri yang sesuai dengan kriterianya. Pada akhirnya, ia menikah dengan seorang wanita yang jauh dari sosok istri yang ideal. Istrinya memang kuning, tetapi tidak tinggi, tidak langsing, bahkan bisa dikatakan bertolak belakang karena ia gemuk. Otaknya juga tidak cemerlang, meski tidak begitu bodoh. Akan tetapi, moralnya baik.

“Kalau saya terus memburu istri yang ideal menurut kacamata saya, mungkin saya tidak akan menikah,” kata teman saya suatu ketika tanpa ditanya. Tampaknya, gambaran istri yang ideal adalah istri yang sempurna (fisik, kepribadian, dan keterampilan). Gambaran itu tidak hanya menjadi keinginan teman saya. Hampir setiap lelaki yang normal (termasuk saya), pasti mengharapkan istri yang ideal, istri yang sempurna, istri yang tidak mengecewakan — istilah populernya, istri yang tidak malu-maluin jika dibawa kondangan, yang terampil dapur, dan berakhlak mulia. Keinginan untuk memeroleh istri yang ideal bukan hanya semata-mata karena kebutuhan pribadi akan istri yang sempurna lahir batin, tetapi juga ingin pamer, ingin dipuji oleh orang lain. Dengan banyak pujian, hati akan merasa bangga, dada dibusungkan. Ya, ada unsur sombong. Terlebih-lebih jika membaca novel picisan atau menyaksikan sinetron yang ditayangkan televisi-televisi swasta kita. Betapa hebatnya sosok istri: kaya, cantik, cerdas, sepertinya tanpa cacat sedikit pun sehingga tidak mengherankan jika kaum lelaki juga terobsesi untuk mendapatkan istri yang ideal, istri yang sempurna lahir batin.

Sayangnya, seperti teman saya, jarang sekali orang yang dapat menemukan istri yang persis sama dengan yang diharapkan. Separuh atau seperempat saja dari kriteria ideal yang dapat ditemukan pada sang istri, itu sudah sangat bagus. Bahkan, bisa jadi, tidak satu pun kriteria ideal itu ada pada sang istri. Betul juga pendapat teman saya di atas, kalau terus memburu istri yang ideal, mungkin bisa menjadi lelaki yang tak laku-laku karena entah kapan dapat kita temukan. Sementara, waktu terus memburu kita, yang berarti usia terus bertambah. Itu sama saja kita semakin tua. Tentu saja , kondisi kita semakin menurun. Kalaupun ada wanita yang ideal, mungkin sudah menjadi milik orang lain. Jadi, sama saja kita tidak dapat memiliki wanita itu untuk menjadi istri kita.

***

Sering kaum lelaki mengomentari pasangan yang dianggap tidak ideal. Misalnya, ketika ada pasangan yang wanitanya sangat cantik, sementara lelakinya biasa-biasa saja, muncullah kelakar dan komentar, “Wah, bagi si lelaki, sih, anugrah, tapi bagi wanitanya itu, musibah,” atau komentar-komentar lain yang pada hakikatnya ada rasa cemburu, rasa iri melihat kebahagiaan orang lain. Bisa jadi karena pelampiasan sebab istri sendiri ternyata tidak ideal. Padahal, kita belum tahu, apakah pasangan yang kita komentari itu bahagia atau tidak. Jangan-jangan, hanya bahagia secara lahiriah. Batiniahnya, tidak bahagia. Atau kedua-duanya, ya lahiriah, ya batiniah tidak bahagia.

Walaupun istri yang kita dapat tidak sesuai dengan yang kita idam-idamkan, bukan berarti kita harus kecewa berkepanjangan, bahkan sampai stres. Apalagi sampai menyesali diri, meratapi nasib yang kita anggap sial. Bagaimanapun juga, jodoh, rezeki, dan kematian sudah ada yang Mengatur. Semua sudah menjadi suratan. Sudah menjadi takdir yang tidak bisa dibantah. Pada akhirnya, kita hanya pasrah. Ya, manusia berusaha, tetapi Allah-lah yang menentukan segalanya sebab Dialah yang Maha Kuasa. Dan kita harus yakin bahwa pilihan Allah adalah pilihan yang terbaik untuk kita. Hanya saja kita tidak mengetahuinya.

Kita memang harus legawa menerima istri kita yang memang sudah menjadi jodoh kita. Dengan perasaan itu, maka semua yang kita kerjakan menjadi lebih enjoy. Tidak ada yang mengganjal dalam pikiran kita. Kita harus menerima istri kita apa adanya. Menerima seutuhnya. Ya kekurangannya, ya kelebihannya. Manusia memang selalu diberi kekurangan di samping kelebihan. Hanya saja, kita terkadang hanya melihat kekurangannya saja. Sementara, kelebihan yang ada pada seseorang, termasuk istri kita, jarang kita perhatikan. Atau tepatnya, tidak pernah kita perhitungkan. Kita sendiri sebenarnya juga memiliki kekurangan, baik kita sadari maupun tidak. Manusia memang tidak ada yang sempurna. Ya, harus kita sadari dan camkan dalam hati bahwa di dunia ini memang tidak ada istri yang ideal. Dengan kesadaran seperti itu maka kita bisa menerima istri kita dengan perasaan cinta dan kasih sayang. Tidak ada lagi penyesalan.

(Sumber: Majalah Ummi edisi 3/XV/2003, rubrik Kolom Ayah, halaman 26-27)

Bagaimana dengan kamu? Lagi-lagi, senyum.

Komentar

Multi Peran Suami

Oleh: Purwanto (Karyawan Swasta di Batam)

Sebelum menikah, bayangan saya kalau sudah punya istri itu semua serba enak, serba menyenangkan. Dimasakkan, dicucikan, disetrikakan baju, pokoknya semua yang berhubungan tugas rumah tangga dikerjakan istri. Semasa kuliah dulu, di kontrakan, ada saja teman yang tidak bisa rapi. Kamar berantakan, cucian menumpuk, bahkan bau karena direndam berhari-hari. Kalau pun sudah dicuci, ada juga yang berhari-hari tidak diturunkan dari jemuran. Juga segelas piring bekas makan dan minum yang terlantar di dapur, tugas piket bersih-bersih rumah sering lewat, dengan alasan klasik, “Afwan ane sibuk.” Ada juga yang bilang, “Ya kalau punya istri ntar kan ada yang rapiin.” Iya kalau dapat istri yang rapi — mudah-mudahan begitu, boleh saja berharap demikian — tetapi kalau kenyataannya bertolak belakang, bagaimana? Apalagi saya juga pernah mendapat cerita tentang para akhwat (wanita muslimah, meskipun tidak mutlak pada umumnya mereka -peny.), ternyata kasusnya juga sama. Kamar berantakan, cucian menumpuk, bahkan ada juga yang mencuci saja tidak bisa, seringnya malah ke laundry. Makan termanjakan dengan beli di warung karena tidak bisa masak sama sekali.

Saya termasuk yang berharap mendapat istri yang pintar mengurus rumah tangga. Yah, karena dulu saya sering seperti itu, sering tidak rapi, cucian menumpuk, dan sejenisnya. Maka setelah saya menikah pun, pola pikir saya belum berubah. Akan tetapi, pada akhirnya, beberapa realita berumah tangga mengubah paradigma berpikir saya tentang peran istri. Istri saya yang memang semasa lajangnya aktivis tulen, tetapi pintar mengurus rumah tangga, ternyata tetap ingin banyak berperan di luar. Bagaimana mungkin ia bisa aktif di luar kalau semua yang berhubungan dengan rumah tangga itu diurusi sendiri?

Ada cerita, tentang seorang ikhwah (saudara muslim laki-laki -peny.) yang sudah berumah tangga dengan seorang istri dan dua orang anak. Nyaris dia tidak pernah (mau) membantu pekerjaan istrinya, meskipun sekadar dititipi anak yang sedang tidur, meskipun istrinya hendak ke warung sebentar atau karena anaknya menangis. Istrinya kerepotan, ia sendiri malah dengan enaknya nonton piala dunia. Sebaliknya, ada juga ikhwah lain yang ketika kami ke sana, sedang asyik memasak, mencuci, atau menyapu sambil mengasuh anaknya. Kedua bapak tersebut sama-sama aktivis dakwah dan bekerja shift (masuk pagi atau malam) di perusahaan asing di Batam. Istri saya begitu sering bercerita tentang dua karakter yang berbeda tersebut. Tentu dengan maksud, saya mencontoh yang kedua.

Sebuah proses penyadaran datang lagi. Terutama setelah ada tanda-tanda punya anak, alhamdulillah. Seperti biasa, di trimester pertama kehamilan, istri sering muntah-muntah, lemas, pusing, banyak tidur, bahkan pernah tiga hari nyaris bed rest (karena dia masih mondar-mandir juga, meskipun sedikit). Jangankan mau memasak, mencuci, dan lainnya, mungkin untuk mengurus diri sendiri pun sangat berat. Walhasil, cucian pun menumpuk, pada akhirnya, mau tidak mau, saya cuci juga. Saya harus bisa membagi waktu. Bagaimana tidak? Kerja di PT saja sudah 12 Jam (8 pagi sampai 8 malam), masih ditambah agenda dakwah, dan yang lainnya. Capek, tentu saja.

Proses penyadaran bertambah seiring dengan membesarnya kandungan plus saat menjelang kelahiran. Semua harus kami urus sendiri karena kami jauh dari orang tua. Orang tua kami belum berkesempatan datang ke Batam karena ongkos tidak mencukupi. Saat itu, saya harus menunggu di rumah sakit, mengurusi masalah administrasi, dan urusun lainnya. Jadilah saya pulang-pergi antara rumah sakit, rumah, dan perusahaan. Di sela-sela itu pun, saya harus mencuci dan mengurus rumah. Alangkah repotnya kalau istri tidak ada.

Proses penyadaran bertambah lagi setelah anak lahir. Saat itu perhatian istri menjadi berkurang dan pekerjannya bertambah karena mengurus si kecil. Pertama-tama, sempat cemburu juga he he…. Tetapi lama-lama saya maklum, malah kasihan melihat betapa repotnya istri. Saya pun belajar membantunya. Saat libur, kadang saya memandikan, menggendong, dan memberinya susu.

Apa yang saya uraikan hanyalah sebuah gambaran, tetapi sesungguhnya, multiperan suami, menurut apa yang saya alami, sangatlah banyak, misalnya saja:

1. Pembantu Istri
Seperti saya katakan, istri saya aktivis, bukan hanya mengurusi organisasi, tetapi dia juga sering keluar rumah mengisi acara. Pekerjaan rumah tangga yang nonstop itu tentu tidak dapat ditangguhkan. Karena kami belum punya khadimat, sayalah yang jadi khadimat-nya (saat ada di rumah atau sedang tidak ada kegiatan/ kerja), terutama mengasuh si kecil. Biasanya, istri saya tanya, “Pilih nyuci baju atau megang Fathin?” Dan saya lebih suka yang kedua, meskipun kadang-kadang, dua-duanya, sambil menyuruhnya cepat-cepat berangkat. Setelah itu, saya menyusul ke tempat acara sambil menggendong Fathin.

2. Manajer Istri
Ketika memutuskan memilih dia, yang saya bayangkan adalah dia mempunyai aset dakwah yang potensial. Maka selain membantunya mengurus organisasi, saya juga lebih repot setiap kali dia ada acara karena istri saya tahunya tampil, titik. Saya juga berhasil memaksa dia tidak hanya menulis (sejak awal dia katakan mau menulis saja), tetapi juga menulis skenario, bahkan menyutradarai teater dadakan yang saya buat dengan teman-teman. Oh, ya, juga mengurus kajian ketika saya masih menjadi Ketua Taklim di perusahaan. Kalau suatu saat ada potensi lain yang harus dia keluarkan dan dibutuhkan, saya akan mendorongnya untuk berkembang.

3. Teknisi
Istri saya yang penulis itu tentu bersahabat dengan komputer dan hal-hal yang terkait dengan itu. Akan tetapi, dia nyaris tidak ma’rifah (kurang familiar -peny.) dengan benda itu. Yang penting bisa ngetik, buka email, buka web, sudah. Jadilah saya teknisinya, dari software sampai hardware. Sebenarnya, saya sudah berusaha mengajarinya, dengan ngobrol atau ketika saya memperbaiki, saya ajak dia. Bahkan, saya simpankan juga banyak file tentang komputer. Akan tetapi, dia sepertinya tidak tertarik. “Kan ada Abi,” begitu selalu jawabnya. Ya, sudah, mungkin lain kali.

4. Tukang
Namanya rumah pasti ada saja yang error. Apalagi kontraktor seperti kami, selalu ada saja barang yang dibutuhkan dan sayang kalau harus beli. Maka saya harus turun tangan sendiri. Jadi “kuli bangunan”, bahkan jadi “tukang kayu”. Membetulkan pipa saluran air, menyemen, tentu sayang kalau harus memanggil tukang. Juga membuat rak. Katika kami baru pindah ke Yogyakarta, ada banyak rak harus saya buat. Juga meja sederhana. Lumayan menghemat. Apalagi kualitasnya tidak beda jauh dengan beli jadi.

Kira-kira, seperti itulah multiperan suami yang selama ini saya jalankan. Keempat peran di atas, tentu saja masih bisa ditambah. Suami juga sahabat, kakak, dan kadang-kadang, jadi adik atau anak yang manja. He he…. Setidaknya dengan sedikit cerita saya, gambaran sosok suami yang “seperti raja”, akan terkikis.

(Sumber: Majalah Ummi edisi 9/XIV/2003, halaman 26-27)

Bagaimana dengan kamu? Smile

Komentar

CTL: Contextual Teaching and Learning CTL atau ‘Cul, Tinggal Lungo’

Contextual Teaching and Learning (CTL) — belajar dan pembelajaran berdasarkan pada konteks — mendapat tempat di hati setiap pendidik dan praktisi pendidikan pada umumnya. Akan tetapi, apakah CTL dapat diimplementasikan dan diwujudkan secara nyata dalam belajar dan pembelajaran? Menurut saya, lagi-lagi menurut saya, kenyataan di lapangan bahwa CTL itu.. Cul, Tinggal Lungo (bahasa Jawa: dilepas begitu saja tanpa diberi arahan dan bimbingan).

Entah di tempat lain, setahu saya hanya sebatas itu hingga saat ini.

Komentar (1)

No Woman, No Cry: Gombal

Betul, betul-betul gombal. Kalau saya:

No woman, noangis.

Salam.

Komentar (1)

Aku Memilihmu karya Ken Reidy Yusuf Wirayudha (AnggrekBiru.com)

Aku Memilihmu
Oleh: Ken Reidy Yusuf Wirayudha dalam: Puisi KenzT pada 17 September 2008 di http://www.anggrekbiru.com/2008/09/17/aku-memilihmu/.

Aku memilihmu…
Untuk menemani di kala siang tak bermentari
Saat malam tak berbintang
Agar dapat terangiku dengan senyuman

Aku memilihmu…
Saat terik sinar menyengat dan membakar
Ketika bulan sabit atau purnama
Untuk temaniku menyusuri dunia

Aku memilihmu…
Dengan hati yang tak memilih waktu
Sepenuh cinta tanpa masa
Semenjak harap masih mendengung hampa

Diksi (pilihan kata) yang digunakan bagus. Nice, deh, pokoknya.

Komentar